Hal berbeda diperlihatkan penduduk yang tinggal di sekitar gua. Mereka memandang gua dari sudut spiritualitas yang cenderung berbau mistis dan klenik. Tak heran, banyak gua dianggap keramat, memiliki mitos, dan legenda yang terus diwariskan kepada generasi selanjutnya.
Untuk memahami pembentukan gua, terlebih dahulu kita harus mengenal bentang alam atau dikenal dengan istilah karst. Karst merupakan bentang alam khas yang dibentuk oleh proses pelarutan batuan karbonat, baik batuan gamping maupun batuan dolomit. Kedua jenis batuan tersebut merupakan batuan sedimen yang terbentuk dari pengendapan organisme laut. Melalui proses pengangkatan benua, dasar laut tersebut terangkat dan berubah menjadi daratan, meninggalkan jejak-jejak yang masih bisa dikenal. 
Batuan karbonat sangat mudah terlarutkan oleh air. Oleh karena itu, jika bersentuhan dengan air dalam waktu yang lama, bagian lemah batuan tersebut akan hilang (terlarutkan). Sementara itu, bagian batuan lebih kuat akan tetap ada, tersisa dalam berbagai bentukan khas kawasan karst. Proses pelarutan yang membentuk bentang alam karst dinamakan proses karstifikasi. Pada akhirnya, bentang alam kawasan karst dapat dibedakan menjadi bentukan permukaan (morfologi eksokarst) dan bentukan bawah permukaan (morfologi endokarst).
Dalam dunia keilmuan, bentang alam karst dipelajari oleh disiplin ilmu karstologi. Namun dalam kenyataannya, kajian karstologi lebih dititikberatkan pada fenomena eksokart. Fenomena endokarst dikaji secara khusus oleh disiplin ilmu speleologi. Secara umum, speleologi dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari gua dan lingkungannya. Kedua ilmu tersebut masih tampak asing bagi dunia pendidikan di Indonesia. Berbeda jauh dengan di negara maju, keduanya sudah mulai diperkenalkan sejak tingkat pendidikan dasar.
Pembentukan gua berlangsung dalam waktu yang sangat panjang, mencapai ribuan hingga jutaan tahun. Seperti bentukan-bentukan kawasan karst yang lain, lorong gua dengan keragaman bentuknya merupakan hasil dari proses pelarutan. Aliran air yang melarutkan batuan tersebut, pada umumnya mengalir mengikuti lorong-lorong yang telah dibentuknya. Aliran seperti itu dikenal sebagai sungai bawah tanah. Keberadaan sungai bawah tanah dapat menjadi ciri bahwa proses pembentukan gua masih terus berlangsung. Gua yang memiliki sungai bawah tanah disebut gua aktif. Sementara itu, gua yang sudah tidak memiliki aliran bawah tanah dinamakan gua fosil. Artinya, proses pembentukan gua tidak berlangsung lagi.
Menurut dr. R.K.T. Ko, ahli karstospeleologi, bentuk fisik gua dipengaruhi secara terus-menerus oleh tiga faktor. Pertama, pengikisan (erosi) kimiawi-mekanis yang berlangsung secara terpisah atau kombinasi. Kedua, pengendapan, baik berupa sedimen di lantai gua, maupun dalam bentuk berbagai macam dekorasi gua (speleothem, cave deposite, cave decorations). Ketiga, proses peruntuhan, baik dalam bentuk bongkahan (block breakdown), lempengan tebal (slab breakdown), lempengan tipis (plate breakdown), maupun butiran kecil (chip breakdown).

Batuan karbonat sangat mudah terlarutkan oleh air. Oleh karena itu, jika bersentuhan dengan air dalam waktu yang lama, bagian lemah batuan tersebut akan hilang (terlarutkan). Sementara itu, bagian batuan lebih kuat akan tetap ada, tersisa dalam berbagai bentukan khas kawasan karst. Proses pelarutan yang membentuk bentang alam karst dinamakan proses karstifikasi. Pada akhirnya, bentang alam kawasan karst dapat dibedakan menjadi bentukan permukaan (morfologi eksokarst) dan bentukan bawah permukaan (morfologi endokarst).
Dalam dunia keilmuan, bentang alam karst dipelajari oleh disiplin ilmu karstologi. Namun dalam kenyataannya, kajian karstologi lebih dititikberatkan pada fenomena eksokart. Fenomena endokarst dikaji secara khusus oleh disiplin ilmu speleologi. Secara umum, speleologi dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari gua dan lingkungannya. Kedua ilmu tersebut masih tampak asing bagi dunia pendidikan di Indonesia. Berbeda jauh dengan di negara maju, keduanya sudah mulai diperkenalkan sejak tingkat pendidikan dasar.
Pembentukan gua berlangsung dalam waktu yang sangat panjang, mencapai ribuan hingga jutaan tahun. Seperti bentukan-bentukan kawasan karst yang lain, lorong gua dengan keragaman bentuknya merupakan hasil dari proses pelarutan. Aliran air yang melarutkan batuan tersebut, pada umumnya mengalir mengikuti lorong-lorong yang telah dibentuknya. Aliran seperti itu dikenal sebagai sungai bawah tanah. Keberadaan sungai bawah tanah dapat menjadi ciri bahwa proses pembentukan gua masih terus berlangsung. Gua yang memiliki sungai bawah tanah disebut gua aktif. Sementara itu, gua yang sudah tidak memiliki aliran bawah tanah dinamakan gua fosil. Artinya, proses pembentukan gua tidak berlangsung lagi.
Menurut dr. R.K.T. Ko, ahli karstospeleologi, bentuk fisik gua dipengaruhi secara terus-menerus oleh tiga faktor. Pertama, pengikisan (erosi) kimiawi-mekanis yang berlangsung secara terpisah atau kombinasi. Kedua, pengendapan, baik berupa sedimen di lantai gua, maupun dalam bentuk berbagai macam dekorasi gua (speleothem, cave deposite, cave decorations). Ketiga, proses peruntuhan, baik dalam bentuk bongkahan (block breakdown), lempengan tebal (slab breakdown), lempengan tipis (plate breakdown), maupun butiran kecil (chip breakdown).

Stalaktif & Stalagmit
Setelah lorong gua terbentuk, proses selanjutnya adalah pembentukan ornamen-ornamen (dekorasi gua). Prosesnya pun berlangsung dalam waktu yang sangat lama. Dekorasi gua sangatlah beragam jenisnya. Satu dengan yang lain memiliki keunikan dan daya tarik sendiri-sendiri. Bentukan yang paling dikenal adalah stalaktit dan stalagmit.
Stalaktit merupakan bentukan yang berada di atap gua, arahnya meruncing, menghadap ke dasar gua. Bentukan ini dihasilkan oleh akumulasi mineral-mineral (umumnya mineral kalsit) yang menetas melalui atap gua. Ketika air menggantung dan hendak jatuh, sebagian mineralnya menempel pada atap gua. Dalam waktu yang lama, akumulasi mineral-mineral tersebut akan menciptakan bentuk-bentuk tertentu. Sementara itu, air yang jatuh ke dasar gua pun masih mengandung mineral-mineral yang kemudian terakumulasi dan membentuk suatu bentukan yang arahnya berlawanan dengan stalaktit. Inilah yang dinamakan stalagmit.
Flora dan Fauna GuaUkuran stalaktit berbeda-beda tergantung umur pembentukannya, ada yang sebesar sedotan, sebesar tangan manusia atau bahkan seukuran pohon kelapa. Ada yang berwarna kusam ataupun bening mengkristal. Stalagmit yang baru tumbuh bentuknya banyak yang menyerupai kuncup-kuncup jamur, semakin lama semakin besar dan tinggi. Jika proses yang terjadi dalam sebuah gua tetap berlangsung, stalaktit dan stalagmit dapat bersatu, membentuk pilar/tiangan. Tiangan dapat berfungsi sebagai penopang yang menguatkan sebuah gua. Selain bentukan-bentukan tadi, terdapat juga heliktit, gourdam, flowstone, canopy, dan lain-lain.
Selain bentukan yang sangat khas dan beragam, biota gua (biospeleologi) merupakan daya tarik lain sebuah gua. Flora gua relatif lebih langka dibandingkan dengan faunanya. Biasanya hanya berupa lumut atau paku-pakuan. Fauna gua dapat dibedakan menjadi tiga golongan yang berbeda. 
Pertama, trogloxene, binatang yang habitat aslinya berada di luar gua, namun sering memasuki gua untuk kepentingan tertentu, misalnya dalam mencari makanan. Kedua, troglophile, binatang penghuni gua yang masih berkepentingan dengan dunia luar. Ketiga, troglobiont, binatang yang merupakan penghuni abadi sebuah gua. Binatang jenis ini selamanya hidup di kegelapan gua dan tidak lagi memerlukan cahaya dalam kelangsungan hidupnya. Dengan demikian, mata binatang troglobiont tidak lagi berfungsi.Flora dan fauna gua merupakan komponen penyusun ekosistem gua. Bentuknya berupa rantai makanan dan jaring-jaring makanan yang khas, serta memiliki berbagai kompleksitas. Oleh karena itu, gangguan terhadap flora dan fauna gua, seperti mengeksploitasi ikan dan kelelawar, bisa mengakibatkan terganggunya keseimbangan ekosistem gua.
